Wednesday, 22 May 2013

PLATYHELMINTHES



PLATYHELMINTHES


Klasifikasi
Platyhelminthes dapat dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu Turbellaria (cacing bulu getar), Trematoda (cacing hisap), Monogenea, dan Cestoda (cacing pita).
  • Kelas Turbellaria merupakan cacing pipih yang menggunakan bulu getar sebagai alat geraknya, contohnya adalah Planaria.
-          Salah satu contohnya planaria sp,
-          Bersifat karnivora, dapat ditemukan di perairan atau genangan air.
-          Biasanya menempel di batuan atau daun yang tergenang air.
-          Panjang tubuhnya sekitar 5 – 25 mm.
-          Bergerak dengan silia yang terdapat pada epidermis tubuhnya.
-          Saluran pencernaannya terdiri dari mulut, faring, dan usus. Tidak memiliki anus.
-          Mengekskresikan sisa sisa metabolisme berupa nitrogen melalui permukaan tubuhnya.
-          Sistem saraf terdiri dari dua ganglia yang terdapat pada bagian kepala.
§  Ganglia adalah lapisan yang berwarna putih. Lapisan dalam banyak mengandung serabut saraf, yaitu Dendrit dan Neurit. Terdapat di otak.
-          Reproduksi terjadi secara seksual (terjadi pada siang pendek dan udara dingin, melalui perkawinan silang) dan aseksual (terjadi pada sing panjang dan udara hangat, dengan regenerasi)
§  Regenerasi dalam biologi adalah menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak atau lepas. Daya regenerasi paling besar pada echinodermata dan platyhelminthes yang dimana tiap potongan tubuh dapat tumbuh menjadi individu baru yang sempurna. Pada Anelida kemampuan itu menurun. Daya itu tinggal sedikit dan terbatas pada bagian ujung anggota pada amfibi dan reptil. Pada mamalia daya itu paling kecil, terbatas pada penyembuhan luka.

  • Kelas Trematoda memiliki alat hisap yang dilengkapi dengan kait untuk melekatkan diri pada inangnya karena golongan ini hidup sebagai parasit pada manusia dan hewan. Beberapa contoh Trematoda adalah Fasciola (cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma
-          Semua anggotanya adalah parasit bagi manusia dan hewan.
-          Contohnya yang terkenal yaitu fasciola hepatica (cacing hati)
-          Struktur tubuh
§   Permukaan tubuhnya tidak bersilia, tetapi diliputi kutikula.
§   Memiliki alat isap satu atau lebih di sekitar mulut atau bagian ventral tubuhnya. Alat isap ini dilengkati dengangigi kitin.

§  Kitin adalah polisakarida (cadangan makanan) struktural yang digunakan untuk menyusun eksoskleton dari artropoda (serangga, laba-laba, krustase, dan hewan-hewan lain sejenis). Kitin murni mirip dengan kulit, namun akan mengeras ketika dilapisi dengan garam kalsium karbonat.[1] Kitin membentuk serat mirip selulosa yang tidak dapat dicerna oleh vertebrata. [2]
§  Sistem pencernaannya bercabang dua, sedangkan sistemekskresi dan sistem saraf sama dengan turbellaria.
§   Sistem reproduksi ada yang hermafrodit.
  • Kelas Cestoda memiliki kulit yang dilapisi kitin sehingga tidak tercemar oleh enzim di usus inang. Cacing ini merupakan parasit pada hewan, contohnya adalah Taenia solium dan T. saginata Spesies ini menggunakan skoleks untuk menempel pada usus inang. Taenia bereproduksi dengan menggunakan telur yang telah dibuahi dan di dalamnya terkandung larva yang disebut onkosfer.
-          Berbentuk pipih seperti pita, dan terdiri dari rangkaian segmen yang masing masing disebut ploglotid.
-          Bagian kepala dilengkapi alat pengisap berkait yang yang digunakan untuk menempel pada tubuh inang.
-          Tidak mempunyai saluran pencernaan. Makan diserap langsung berupa sari makanan oleh permukaan tubuh.
-          Bersifat endoparasit dalam saluran pencernaan vertebrata.
-          Segmentasi cacing pita merupakan koloni dari individu individu yang dihasilkan melalui stobilasi (pembentukan kuncup).
-          Ploglotid dewasa yang mengandung alat reproduksi dapat terlepas dari kotoran inagnya. Kemudian ploglotid tumbuh menjadi individu dewasa.
-          Bersifat hermafrodit.
-          Sistem sarafnya lebih sederhana daripada sistem saraf tremapoda.
-          Contoh spesiesnya yang terkenal yaitu Taenia solium, Taenia saginata, dan Dibothriochepalus latus.
·         Monogenea adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filumPlatyhelminthes Hewan dari kelas Monogenea umumnya parasit. Hewan ini juga tidak memiliki rongga tubuh. Monogenea mempunyai sistem pencernaan sederhana yang mencakup lubang mulut, usus, serta anus. Contohnya Noebenedenia. Pada tahap awal hidupnya, Monogenea memiliki sebuah organ mirip kait di bagian posteriornya yang disebut haptor. Hewan dewasa memiliki prohaptor (untuk makan) dan opisthaptor (untuk menempel). Monogenea dapat ditemukan dikulit, sirip, dan insang ikan. Monogenea biasanya hermafrodit. Siklus hidupnya tidak mengalami reproduksi aseksual. Pada reproduksinya dihasilkan telur yang akan mengalami tahap larva, disebut onkomirasidium. Hewan dewasanya memakan darah, lendir, serta sel-sel epitel inangnya.
-          Umumnya parasit
-          Contohnya Neobenedenia
-          Tidak memiliki rongga tubuh
-          Mempunyai sistem pencernaan sederhana yang mencakup lubang mulut , usus, serta anus.
-          Pada tahap awal, memiliki sebuah organ mirip kait di bagian posteriornya yang disebut haptor.
-          Hewan dewasa memiliki prohaptor (untuk makan) dan ophisthaptor (untuk menempel).
-          Monogenea dapat ditemukan di kulit, sirip, dan insang ikan.
-          Biasanya hermafrodit.
-          Siklus hidupnya tidak mengalami reproduksi aseksual
-          Hewan dewasa memakan darah, lendir serta sel-sel epitel inangnya.
CIRI-CIRI

Tubuh pipih dosoventral dan tidak bersegmen. Umumnya, golongan cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam tubuh organisme lain. Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya.Beberapa contoh Platyhelminthes adalah Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang 2-3 cm), Bipalium yang hidup di balik lumut lembap (panjang mencapai 60 cm), Clonorchis sinensis, cacing hati, dan cacing pita.
Ciri-ciri Platyhelmynthes
–Triploblastika selomata
–Tubuh berbentuk pipih bertipe simetribilateral
–Tidak memiliki system peredaran darah,system pernapasan dan rangka tubuh
–Sudah memiliki system ekskresi,sistemreproduksi,system saraf.
–Hermafrodit,yaitu dapat menghasilkan telur ataupun sperma

Struktur dan fungsi tubuh
Platyhelminthes merupakan cacing yang tergolong triploblastik aselomata karena memiliki 3 lapisan embrional yang terdiri dari ektoderma, endoderma, dan mesoderma Namun, mesoderma cacing ini tidak mengalami spesialisasi sehingga sel-selnya tetap seragam dan tidak membentuk sel khusus.
Platyhelminthes merupakan cacing yang tergolong triploblastik aselomata karena memiliki 3 lapisan embrional yang terdiri dari ektoderma, endoderma, dan mesoderma.Namun, mesoderma cacing initidak mengalami spesialisasisehingga sel-selnya tetapseragam dan tidak membentuk sel khusus.
·         Ektoderma (lapisan luar)
Dalam perkembangan selanjutnya akan membentuk epidermis dan kutikula.
Epidermis  lunak dan bersilia berfungsi membantu alat gerak.
Sebagian epidermis dilengkapi dengan al
at yang dapat dipakai untuk melekatkan diri pada inang. Ada pula yang berupa alat kait dari kitin.

·         Mesoderma (lapisan tengah)
Dalam perkembangan selanjutnya, mesoderma akan membentuk alat reproduksi, jaringan otot, dan jaringan ikat.
·         Endoderma (lapisan dalam)
Dalam perkembangan selanjutnya endoderma akan membentuk gastrodermis / gastrovaskuler sebagai saluran pencernaan makanan

Bagian-bagian Platyhelminthes :
Keterangan gambar :

·         Mulut : makan dan ekskresi.
·         Saraf cincin  : system syaraf di kepala.
·         Saluran elementer : system pencernaan.
·         Uterus: system ekskresi
·         Vas deferens : reproduksi seksual
·         Testis anterior : reproduksi seksual
·         Kelenjar kuning telur : reproduksi seksual
·         Faring : system pernafasan.
·         Penis : reproduksi seksual
·         Kantung seminal :memproduksi sperma.
·         Saraf longitudinal : Sistem ekskresi
·         Ovarium : reproduksi seksual
·         Kelenjar kulit  : menghasilkan lender yang melapisi tubuh dan dapat digunakan untuk meluncur.







SISTEM PENCERNAAN
Sistem pencernaan cacing pipih disebut sistem gastrovaskuler, dimana peredaran makanan tidak melalui darah tetapi oleh usus.Sistem pencernaan cacing pipih dimulai dari mulut, faring, dan dilanjutkan ke kerongkongan.Di belakang kerongkongan ini terdapat usus yang memiliki cabang ke seluruh tubuh.Dengan demikian, selain mencerna makanan, usus juga mengedarkan makanan ke seluruh tubuh.
Selain itu, cacing pipih juga melakukan pembuangan sisa makanan melalui mulut karena tidak memiliki anus.Cacing pipih tidak memiliki sistem transpor karena makanannya diedarkan melalui sistem gastrovaskuler. Sementara itu, gas O2 dan CO2 dikeluarkan dari tubuhnya melalui proses difusi.
Saluran pencernaan tidak sempurna, yaitu berupa rongga gasrovaskuleryang terletak di dalam tubuhdan berperan sebagai usus. Tetapi ada pula platyhelminthes yang tidak memiliki saluran pencernaan. 

SISTEM EKSKRESI
Bersifat sederhana dan terutama berfungsi untuk memelihara keseimbangan osmosis antara hewan dengan lingkungannya. Tersusun dari sel sel bersilia, yaitu sel sel bulu getar (solenosit)

SISTEM SYARAF

Ada beberapa macam sistem syaraf pada cacing pipih :
• Sistem syaraf tangga tali merupakan sistem syaraf yang paling sederhana. Pada sistem tersebut, pusat susunan saraf yang disebut sebagai ganglion otak terdapat di bagian kepala dan berjumlah sepasang.Dari kedua ganglion otak tersebut keluar tali saraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut saraf melintang.Pada cacing pipih yang lebih tinggi tingkatannya, sistem saraf dapat tersusun dari sel saraf (neuron) yang dibedakan menjadi sel saraf sensori (sel pembawa sinyal dari indera ke otak), sel saraf motor (sel pembawa dari otak ke efektor), dan sel asosiasi (perantara).

INDERA

Beberapa jenis cacing pipih memiliki sistem penginderaan berupa oseli, yaitu bintik mata yang mengandung pigmen peka terhadap cahaya.Bintik mata tersebut biasanya berjumlah sepasang dan terdapat di bagian anterior (kepala). Seluruh cacing pipih memiliki indra meraba dan sel kemoresptor di seluruh tubuhnya. Beberapa spesies juga memiliki indra tambahan berupa aurikula (telinga), statosista (pegatur keseimbangan), dan reoreseptor (organ untuk mengetahui arah aliran sungai). Umumnya, cacing pipih memiliki sistem osmoregulasi yang disebut protonefridia. Sistem ini terdiri dari saluran berpembeluh yang berakhir di sel api. Lubang pengeluaran cairan yang dimilikinya disebut protonefridiofor yang berjumlah sepasang atau lebih.Sedangkan, sisa metabolism tubuhnya dikeluarkan secara difusi melalui dinding sel.

Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
Reproduksi
Cacing pipih dapat bereproduksi secara aseksual dengan membelah diri dan secara seksual dengan perkawinan silang, walaupun hewan ini tergolong hermafrodit. Artinya dalam satu tubuh terdapat alat kelamin jantan dan betina, namun jarang terjadi pebuahan sendiri.Reproduksi generatif dengan perkawinan silang dan berlangsung fertilisasi internal. Reproduksi vegetatif dengan cara regenerasi yaitu individu baru berasal dari bagian tubuh induknya.
Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual.Pada Reproduksi seksual terjadi fertilisasi di dalam tuubuh Platyhelminthes.Fertilisasi dapat dilakukan oleh sendiri atau dua individu.
Sedangkan reproduksi aseksual dilakukan dengan cara faragmentasi. Setelah membelah, bagian potongan tubuh tersebut mengalami regenerasi dan tumbuh menjadi individu baru.

Hermafrodit

Hermafrodit secara biologis adalah individu yang memiliki 2 alat/organ kelamin yaitu jantan dan betina, berfungsi penuh. Hermafrodit hanya ada dalam mitologi, dan bukan yang terjadi pada manusia, tetapi dalam dunia hewan dan tumbuhan. Adalah penting untuk mengetahui bahwa Hermafrodit tidak sama Interseks, orang interseks terjadi pada manusia, kedua organ tidak dapat sepenuhnya berfungsi.

Siklus Hidup Platyhelminthes

a. Fasciola hepatica
Telur (bersama feces) -> larva bersilia (mirasidium) -> siput air (lymnea auricularis atau lymnea javanica) -> sporosista -> redia -> serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menempel pada rumput / tanaman air -> membentuk kista (metaserkaria) -> dimakan domba(hepatica)/sapi(gigantica) -> usus -> hati -> sampai dewasa.

      Reproduksi seksual Fasciola hepatica menghasilkan telur pada hati dan kemudian berpindah ke aliran darah ke empedu dan usus, kemudian keluar bersama tinja.
      Telur menetas dan tumbuh menjadi mirasidium bersilia di tempat basah.
      Mirasidium menginfeksi inang perantara yaitu Lymnaea atau siput air.
      Mirasidium berubah menjadi sporokis di dalam tubuh inang perantara (siput air).
      Sporokis berkembang secara aseksual menjadi redia.
      Redia bermetamorfosis menjadi serkaria.
      Serkaria ini keluar dari tubuh siput dan menempel pada turmbuhan atau rumput air.
      Serkaria membentuk cacing muda atau metaserkaria.
      Metaserkaria termakan oleh hewan dan kemudian menjadi cacing dewasa di dalam organ hati.

b. Chlornosis sinensis
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporosista -> menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh siput -> ikan air tawar (menempel di ototnya) -> membentuk kista (metaserkaria) -> ikan dimakan -> saluran pencernaan -> hati -> sampai dewasa

c. Schistosoma javanicum
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporosista -> menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menembus kulit manusia -> pembuluh darah vena

d. Taenia saginata / Taenia Solium
Proglotid (bersama feces) -> mencemari makanan babi -> babi -> usus babi (telur menetas jadi hexacan) -> aliran darah -> otot/daging (sistiserkus) -> manusia -> usus manusia (sistiserkus pecah -> skolex menempel di dinding usus) -> sampai dewasa di manusia -> keluar bersama feces

Penyakit yang disebabkan Platyhelminthes


Schistosoma mansoni, penyebab Schistosoma pada manusia.
Beberapa spesies Platyhelminthes dapat menimbulkan penyakit pada manusia dan hewan. Salah satu diantaranya adalah genus Schistosoma yang dapat menyebabkan skistosomiasis, penyakit parasit yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia. Apabila cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, dapat terjadi kerusakan jaringan dan organ seperti kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia.Kerusakan tersebut disebabkan perkembanganbiakan cacing Schistosoma di dalam tubuh hingga menyebabkan reaksi imunitas.Penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia.Contoh lainnya adalah Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya.Spesies ini dapat menghisap darah manusia. Pada hewan, infeksi cacing pipih juga dapat ditemukan, misalnya Scutariella didactyla yang menyerang udang jenis Trogocaris dengan cara menghisap cairan tubuh udang tersebut

No comments:

Post a Comment