KU BERIKAN CINTA PERTAMA DAN
TERAKHIRKU UNTUKMU
Namaku adalah Chynara Bunga, aku
merupakan anak dari seorang Dokter di Rumah Sakit Kasih Ibu. Ibuku sudah
meninggal sejak ia melahirkanku, sehingga Ayaku adalah satu-satunya orang tua
yang selama ini merawatku. Sudah lebih dari 10 tahun Ayahku bekerja sebagai
Dokter organ dalam di Rumah Sakit ini. Ayahku mempunyai seorang pasien yang
sejak dulu di rawat di sini, dia adalah Kaka. Begitu dekatnya hubungan antara
Ayahku dan juga Kaka, bahkan keluarga kami sudah saling kenal mengenal antara
satu sama lain. Kaka adalah pasien Ayah yang menderita penyakit jantung. Sejak
kecil dia di rawat di sini, dia tidak boleh melakukan aktivitas apapun kecuali
hanya aktivitas yang ringan. Aku pun juga sangat dekat dengan Kaka, dia seperti
saudaraku sendiri dan aku sangat menyayanginya.
Kaka pernah bercerita padaku tentang
mitos sebuah daun semanggi, jika kau menemukan daun semanggi berjumlah 5 daun,
permohonanmu akan dikabulkan. Kami pernah mencari daun itu, tapi kami tak
pernah menemukannya.
“
Kau tau Bunga, apa yang akan aku lakukan jika aku menemukan daun itu? ,”
tanyanya kepadaku.
“
Memang apa yang ingin kamu lakukan Ka ? ,” jawabku.
“
Aku akan berdoa dan meminta Tuhan agar aku dapat sembuh dari sakitku, dan saat
dewasa nanti aku ingin menikahimu Bunga, aku ingin memberikan cinta pertama dan
terakhirku untukmu, ” jawabnya dengan nada lemah lembut kepadaku.
Tanpa ku sadari air mataku menetes
begitu saja, jujur aku tak mau kehilanganmu Kaka. Aku mau menjadi istrimu kelak
jika kita sudah dewasa. Perkataan itu selalu membuat ku sadar bahwa sebenarnya
aku mencintainya.
* * *
Waktu berlalu begitu cepat, sudah 11
tahun ini sejak dia mengatakan hal itu kepadaku, dan kami sekarang telah
berusia 16 tahun. Sekarang kami sudah menjadi siswa di sebuah SMA ternama di
kota kami. Akhirnya dia diperbolehkan untuk menuntut ilmu di sini.
Walaupun
dia diperbolehkan belajar di sekolah ini, dia tetap tak boleh terlalu lelah
dalam menjalani semua aktivitasnya. Selama ini Kaka tidak pernah belajar di
tempat yang seharusnya ia belajar, dulu ia belajar di rumah sakit dengan
fasilitas Home Schooling.
Aku sangat senang saat mengetahui
dia diperbolehkan untuk bersekolah di sini bersamaku. Orangtuanya selalu
berpesan kepadaku agar aku selalu menjaga dan mengawasinya. Mereka selalu
mengatakan kepadaku bahwa mereka tak ingin kehilangan Kaka.
Hari ini adalah hari pertama masuk
ke sekolah. Raut wajah ceria dan gembira terpancar dari senyumannya. Dia tampak
begitu senang saat berada di sekolah, walaupun dia tau dia tak dapat menjalani
semua aktivitas di sini, yaitu dalam kegiatan olah raga. Obat-obatan selalu
rajin menemaninya setiap saat. Dia harus meminumnya setiap 3 jam sekali, untuk
menjaga jantungnya agar tidak terlalu bekerja keras saat ia menjalani aktivitas
di sekolah.
Aku selalu menemaninya setiap saat,
sampai teman-teman mengira kami sedang pacaran, padahal kenyataannya tidak. Aku
selalu sedih ketika saat jam olah raga berlangsung, aku tak tega untuk
meninggalkannya sendirian.
“
Ka, bukankah saat ini kamu harus meminum obat kamu ? ” tanyaku pada Kaka.
“
Oh iya aku sampai lupa. Terima kasih telah mengingatkanku Bunga. Bisakah kamu
mengambilkan minumku di kelas Bunga ? ” jawabnya dengan lesu.
“
Tentu saja, tunggu sebentar ya, ”
Setiap hari aku harus selalu
mengawasinya jika saja nanti penyakitnya itu kambuh lagi. Aku tak pernah ingin
penyakitnya kambuh seperti dulu, dia begitu tampak kesakitan dan tak berdaya
saat penyakitnya itu kambuh. Aku pernah berpikir seandainya saja Tuhan tak memberikan
penyakit itu kepadanya dan aku ingin sekali melihatnya tersenyum bahagia tanpa
ada yang membebaninya.
Terdengar suara yang sangat ramai di
depan kelas, ternyata ada murid baru, dia bernama Raka. Para murid begitu
antusias menyambut Raka, kecuali aku. Sekarang adalah waktunya untuk
mengambilkan minum untuk Kaka, aku takut jika dia telat meminum obatnya,
penyakitnya akan kambuh lagi. Aku harus cepat, sebelum Kaka ….. ?????
“
Awwww sakit,” kataku kaget.
“
Ups, maaf ya, aku tak sengaja menabrakmu. Sini aku bantu kamu berdiri, ” kata
Raka sambil menjulurkan tangannya ke arahku.
“
Tidak usah repot-repot menolongku, aku tidak apa-apa,” jawabku dengan menolak
tangan Raka.
Ini dia ketemu, botol air milik Kaka,
aku harus segera memberikan ini kepadanya. Aku keluar kelas dengan berlari, dan
masalahnya mengapa Raka mengikutiku dari belangkang ? Ada apa dengannya ?
“
Ka, ini air putihnya, sekarang cepat minum obatnya ! ” kataku kepada Kaka.
“
Oke, makasih ya Bunga, ” balasnya dengan senyuman manisnya.
“
Hai, perkenalkan namaku Raka, aku anak baru di sini, salam kenal ya ? ” sapa
Raka kepada ku dan Kaka sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan
dengan kami.
“
Oh, aku Bunga dan ini Kaka, ” jawabku.
“
Nama yang cantik, ” balas Raka kepadaku.
Seketika itu aku langsung pergi
meninggalkan Raka bersama Kaka. Aku menuju ke dalam kelas, dan kemudian menuju
ke toilet untuk berganti baju seragam karena jam olah raga telah selesai.
“
Hai Bunga, ini aku Raka, nanti pulang sekolah aku antar pulang ya ? ” tanya
Raka kepadaku.
“
Eeee, aku nanti pulang bersama Kaka, aku ada janji dengannya,” jawabku ketus.
“
Mungkin lain waktu, ” kata Raka sambil meninggalkanku.
Mengapa ini, aku tak suka cara Raka
mendekatiku. Aku juga tak mau jika dia mencoba merayuku seperti tadi, aku tak
suka dia. Aku hanya mencintai Kaka, titik. Akhirnya tiba saat untuk pulang
sekolah, hari ini aku ingin mengajak Kaka untuk berjalan-jalan sebentar di
sekitar kota. Aku ingin menunjukan sesuatu kepadanya, tempat itu adalah sebuah
taman bunga mawar putih, di sana juga ada banyak tumbuhan semanggi.
“
Ka, aku mau mengajakmu ke suatu tempat yang sangat indah di dekat kota. Maukah
kamu menemaniku ke sana ? ” tanya ku dengan lembut kepadanya.
“
Baiklah, aku mau. Tapi ada syaratnya ya, kamu harus beliin aku ice cream,”
jawabnya.
“
Eeeee, iya deh aku beliin ice cream. Tapi pakai uang kamu ya ? ” jawabku
kepadanya sambil menjulurkan lidahku keluar.
Akhirnya sampai juga di taman ini.
Aku ingin memberi kejutan padanya, aku menutup matanya dengan tanganku.
Perlahan-lahan ku lepaskan tanganku dan menyuruh Kaka untuk membuka mata.
“
Wah, indah sekali tempat ini. Di sini juga banyak tumbuhan semanggi. Bunga ayo
kita cari semanggi berdaun lima !” ajaknya kepadaku.
“
Taruhan ya, siapa yang bisa menemukannya dulu, dia harus membelikan ice cream.
Berani tidak ? ” balasku dengan semangat 45.
“
Oke, siapa takut,” jawabnya.
Aku berharap dengan mengajaknya ke
taman ini, aku dapat membuatnya bahagia, walaupun itu sangat sulit dilakukan.
Aku percaya, manusia tak akan dapat mengubah takdir jika manusia tak mau
berusaha, dan aku akan mengubah takdir untuknya, untuk Kaka.
“
Aku tak menemukannya, bagaimana denganmu ? ” tanyaku padanya.
“
Aku juga tak menemukannya, bagaimana kalau kita pergi ke kedai ice cream saja.
Aku yang akan mentraktirmu. Setuju ? ” jawab Kaka.
“
Baiklah aku setuju jika kamu yang mentraktir. Oh iya aku tau kedai ice cream
paling enak, itu berada di depan mall dekat sini, ” kataku padanya.
* * *
Sebentar lagi adalah ulang tahun
Kaka, tepat 30 detik lagi. Aku sekarang berada di depan kamar Kaka, aku ingin
menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Tak lupa
aku membawa hadiah special untuknya, sebuah kue kecil berbentuk tumbuhan
semanggi berdaun lima buatanku sendiri.
“
Happy birthday Kaka, semoga panjang umur dan sehat selalu ya, dan juga tambah
sayang sama orang tua,” ucapku sambil memeluknya.
“
Makasih Bunga, kamu memang sahabatku yang paling baik. Eeee hadiah buat aku
mana ? ” katanya kepadaku.
“
Ini dia hadiahnya, semoga kamu suka ya ? Itu buatanku sendiri khusus buat
kamu,” balasku.
“
Wah, terima kasih ya, sekarang aku akan coba kuenya. Sebelum itu aku akan
panggil Ayah dan Bunda kemari, ” jawabnya sambil pergi menghampiri Ayah dan
Bundanya.
“
Terima kasih nak Bunga sudah mau datang ke sini dan juga membuatkan Kaka kue
seenak ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih,” kata Ayah dan Bunda Kaka
kepadaku.
“
Iya, sama-sama tante, ” jawabku sambil tersenyum manis.
Masih ada satu hadiah lagi yang
ingin ku berikan kepada Kaka, ini sangat special. Aku ingin memberinya sebuah
kalung tanda persahabatan kami. Kalung ini bergambar bungan mawar putih berdaun
tumbuhan semanggi berdaun lima. Lambang ini adalah lambang tanaman kesukaan
kami berdua. Aku menyukai bunga mawar putih dan Kaka menyukai tumbuhan semanggi
berdaun lima. Masing-masing kalung bertuliskan nama kami masing-masing dan juga
sebuah lambang hati di sampingnya. Aku akan memberikannya nanti saat kami
berangkat sekolah bersama.
“
Kaka, aku mau memberimu ini. Ini adalah hadiah yang paling special buat kamu, ”
kataku sambil menyerahkan sebuah bingkisan manis yang sudah ku persiapkan tadi
pagi.
“
Terima kasih Bunga, maaf ya kalau aku merepotkanmu. Aku juga punya hadiah
special buat kamu. Hadiahnya ini……. Tapi kamu harus tutup mata kamu, ” balasnya
kepadaku.
Sebuah kecupan manis mendarat di
keningku, kecupan persahabatan dari Kaka. Sungguh dia membuatku lemah tak
berdaya, aku sangat menyayanginya bahkan lebih dari sekadar sahabat. Mungkinkah
Kaka dapat menjadi kekasihku untuk pertama dan terakhirnya dalam hidupku ?
“
Masih ada satu lagi, ini dia………., ” katanya kepadaku sambil menyerahkan sebuah
surat kecil berwarna ungu dengan gambar mawar putih.
“
Tapi jangan dibaca di sini ya ? Baca di rumah saja, ” tambahnya kepadaku.
Setelah pulang sekolah aku langsung
berlari menuju kamarku, dan memulai membuka surat dari Kaka. Kata demi kata
mulai ku baca, sungguh perpaduan kata yang sangat indah. Salah satu kalimat
berbunyi “ Dapatkah kau mendengar suara hatiku ? Apakah ia mengatakan bahwa aku
mencintaimu ? Hati tak akan pernah berbohong terhadap apa yang sudah ia katakan.
Jadi apakah kau mau menerima cintaku Bunga ?” Kata-kata itu membuat lidahku
beku dan tak dapat berbicara sepatah katapun. Apa aku bermimpi ? Apa ini sebuah
ilusi semata ? Aku tak menyangka bahwa selama ini Kaka juga memiliki perasaan
yang sama denganku. Terima kasih Tuhan kau telah menciptakan seseorang seperti
Kaka.
Cinta sungguh rumit, cinta itu tak
seperti dongeng yang selalu berakhir bahagia. Cinta dapat membuat seseorang
menjadi buta, buta mata dan hati. Mencoba mengetahui arti cinta, itulah yang
sedang ku pukirkan sekarang. Cinta tak akan pernah memandang, cinta timbul
karena terbiasa dan cinta adalah anugrah.
“
Bunga, apakah kau sudah membaca surat dariku ? ” tanya Kaka padaku.
“
Sudah, dan aku menerimamu, ” jawabku sambil menggandeng tangannya.
Cinta bukanlah sebuah nama, cinta
perlu kepercayaaan dan kesetiaan, seperti cintaku padanya.
* * *
“
Bunga, aku mencintaimu,” tiba-tiba Raka menguncapkan kata itu kepadaku.
“
Apa ? Kau bilang kau mencintaiku ? Tapi cinta tak bisa dipaksakan Raka. Kau tau
bahwa aku adalah pacar Kaka bukan ? ” jawabku kepadanya.
“
Justru itu, aku tak ingin kau bersedih jika sewaktu-waktu penyakit Kaka kambuh
lagi dan akhirnya ia meninggalkan mu sendiri Bunga, ” balasnya kepadaku.
“
Maaf aku tak bisa menerimamu, hatiku sudah milik orang lain yaitu Kaka, tapi
bagaimana kau tau jika Kaka sedang sakit ? ” tanyaku padanya.
“
Bukan urusanmu, ” jawabnya dan langsung meninggalkanku pergi.
Apa-apaan Raka itu, dia berbicara
seolah dia tau segalanya. Tetapi bagaimana dia bisa tau penyakit Kaka ?
Sudahlah aku juga tak mau begitu terbebani dengan pertanyaan itu. Sekarang yang
ku bisa adalah berdoa supaya Kaka bisa sembuh dari penyakitnya. Tuhan, aku
mohon beri mukjizat padanya, agar dia bisa sembuh dari penyakitnya.
“
Bunga, lihatlah di belakang sekolah, Raka dan Kaka sedang berkelahi, ” kata
Nara padaku.
“
Apa ? Baiklah aku akan ke sana.”
“ Kalian itu kenapa ? Mengapa berkelahi
seperti anak kecil begini ? ” tanyaku kepada Kaka dan Raka.
“Aku
punya tantangan untukmu, jika kamu memang benar-benar mencintai Bunga. Kau dan
aku akan berlomba lari memutari sekolah, siapa yang sampai ke titik ini
terlebih dahulu itu yang pantas menjadi kekasih Bunga. Beranikah kau terhadap
tantangan itu ? ” tanya Raka kepada Kaka dan menghiraukan pertanyaanku tadi.
“
Semua ini aku lakukan demi kamu Bunga, percayalah bahwa aku yang akan sampai di
sini terlebih dahulu dan akulah yang pantas menjadi kekasihmu,” jawab Kaka.
“
Baiklah kalau begitu, 1, 2, 3, mulai ! ” ucap Raka sambil memulai pertandingan.
Mereka memang sangat bodoh, apa yang
bisa di harapkan dari seseorang sepertiku ? Satu masalah yang ku takutkan,
bagaimana jika penyakit Kaka kambuh lagi. Dia tak boleh kelelahan sedikitpun.
Cemas, takut, sedih, semua bercampur menjadi satu di pikiranku.
“
Akhirnya aku yang menang. Kau percaya kan Bunga bahwa aku memang sangat
mencintaimu ? ” kata Kaka mengagetkanku.
“
Kau bodoh Kaka, bagaimana jika……..? ” Kaka menutup mulutku sahingga aku tak
dapat melanjutkan perkataanku untuknya.
“
Baiklah aku mengaku kalah darimu. Selamat atas kemenanganmu dan kuharap kita
dapat menjadi teman baik, ” ucap Raka kepada kami dan kemudian pergi menjauh.
“
Bisakah kau mengambilkan obatku di tas beserta minumku Bunga ? ” tanya Kaka
kepadaku.
“
Sudah ku bilang kepadamu, jangan pernah menanggapi permintaan konyol seperti
tadi. Apakah kau tak tau, aku tak mau kehilanganmu ? ” balasku padanya.
“
Baiklah aku minta maaf, aku tak akan mengulanginya, ” jawabnya.
Aku pergi mengambilkan obat
untuknya, tak kusangka dia akan sekuat ini. Padahal dia belum pernah melakukan
aktivitas seberat itu, apakah dia akan baik-baik saja ?
Nafas ini seakan berhenti begitu saja,
ku lihat dia tertidur di atas kursi kecil itu. Sudah ku bilang, ini tak akan
baik untuknya. Mengapa kau begitu bodoh Kaka ? Sekarang yang harus ku lakukan
adalah membawamu ke rumah sakit Ayah.
“
Ayah, penyakit Kaka kambuh lagi, ” kataku kepada Ayah di ruangannya.
“ Bagaimana bisa ? Sudah 4 tahun ini
penyakitnya sudah tidak kambuh lagi, apa yang kau lakukan bersamanya ? ” tanya
Ayah kepadaku.
“
Tadi…… Tadi….. Eeeeee, tadi Kaka berlomba lari dengan teman kami Ayah. Ini
semua salahku Ayah, apa yang harus aku lakukan ? ” jawabku padanya.
“
Sudah, tenanglah Bunga. Ayah akan segera menanganinya, ” balasnya sambil menuju
ke UGD tempat Kaka berada.
Apa yang harus ku lakukan sekarang ?
Ini semua salahku, ini semua salahku. Bagaimana jika………?
Tiba –tiba suara telepon ini
mengagetkanku.
“
Halo, apa saya berbicara dengan Bunga ? ” tanya seseorang dari telepon.
“
Iya, saya sendiri. Maaf ini siapa ya ? ” tanyaku kepada orang itu.
“
Ini aku, Nara. Bunga tadi aku mendapat kabar dari teman-teman bahwa Raka
kecelakaan. Dia tertabrak mobil. Bisakah kau datang ke sini, di Rumah Sakit
Kasih Ibu,” ucap Nara padaku.
“
Kebetulan aku sedang berada di Rumah Sakit Kasih Ibu untuk menemui ayahku. Baiklah
aku akan ke sana seecepatnya, ” jawabku padanya.
Beberapa saat kemudian aku sampai di
depan kamar Raka, dia tampak begitu tergolek lemah. Tiba-tiba seorang ibu
mendatangiku dan memberiku sebuah surat kecil. Kata demi kata ku baca, aku
hampir tak mempercayai semua ini. Benarkah Raka ingin mendonorkan jantungnya
untuk Kaka ? Semua ini tergangtung keputusan masing-masing pihak dari keluarga
Kaka dan Raka. Tetapi aku tak mempercayai ini semua, bukankah Raka begitu
membenci Kaka, bagaimana bisa ia mendonorkan jantungnya untuk Kaka ? Setelah
itu aku langsung memberi tau ayah dan langsung menghubungi keluarga Kaka.
Perundingan selesai, harapanku
musnah begitu saja. Salah satu dokter mengatakan bahwa Raka masih bisa bertahan
hidup, dan karena itulah orang tua Raka tidak menyetujui pendonoran jantung
tersebut. Aku memang egois, bahkan sangat egois, aku hanya memikirkan kepentinganku
sendiri. Sekarang apa yang akan aku lakukan, ayah bilang keadaan Kaka sudah
sangat kritis, dia harus mendapat donor secepatnya.
Aku pergi begitu saja dari pertemuan
tadi, aku tak ingin mendengar kata-kata menyakitkan itu lagi. “ Kami tak akan pernah
menyetujui pendonoran ini, apalagi anak kami masih dapat diselamatkan. Kalian
tak punya hati, kalian ingin mengambil nyawa anaku.” Orang tua Raka sangat tak
menyetujui pendonoran itu, aku tau itu. Jika aku jadi mereka, mungkin aku akan
melakukan hal sama. Aku tak kuat dengan semua yang terjadi dan aku putuskan
untuk menuju ke taman kota untuk mencari tumbuhan semanggi berdaun lima. Semoga
aku dapat menemukannya.
Helai demi helai ku amati satu
persatu, tak ada satupun yang berdaun lima di sini. Aku terus mencari dan
mencari daun itu, hingga malampun tiba. Aku hampir menyerah dengan semua ini,
aku sudah tak sanggup lagi. Suara hatiku berseru “ Lihatlah di sebelah pohon di
depanmu, di sana ada sebuah daun keajaiban.” Apa maksud kata-kata tadi. Ku coba
menelusuri lagi tiap helai daun di situ, dan akhirnya aku menemukannya,
tumbuhan semanggi berdaun lima. Ku berlari menuju kamar Kaka sambil membawa
daun itu.
“
Kaka, lihat ini. Aku menemukan tumbuhan semanggi berdaun lima. Bisakah kau
mendengarku ? ” tanyaku kepadanya yang jelas-jelas dia sedang tak sadarkan
diri.
“
Ku mohon daun cantik, kabulkanlah permintaanku, sembuhkanlah Kaka, hilangkan
penyakit jelek itu dari tubuh Kaka. Ku mohon kabulkanlah permintaanku,” kataku
kepada daun itu.
Seketika itu Kaka perlahan-lahan
mulai membuka matanya. Apakah semua ini berhasil berkat daun tadi ? Terimakasih
Tuhan.
“
Bunga, bisakah kau mendekat denganku sekarang ? Aku ingin memberi tau sesuatu
hal kepadamu, ” tanyanya kepadaku.
“
Tentu saja aku bisa, ” jawabku dengan sangat lembut.
“
Mungkin ini adalah perkataan terakhirku. Aku ingin kau menjadi kekasih Raka,
aku yakin Raka juga sangat mencintaimu Bunga, ” katanya dengan sedikit menahan
rasa sakit yang sangat terlihat jelas di wajah manisnya.
“
Kamu jangan berkata seperti itu, mungkin manusia tak dapat mengubah takdir
kematian, tetapi masih ada mukjizat yang mungkin Tuhan berikan padamu Kaka, ”
balasku sambil memeluknya dengan erat.
“
Tenanglah Bunga aku akan selalu menepati janjiku. Ku jadikan kamu cinta pertama
dan terakhir dalam hidupku. Aku yakin suatu saat nanti aku akan bertemu
denganmu kembali di surga, ” ucap Raka.
Air mata ini menetes dengan
derasnya, aku tak sanggup melihat dia menahan rasa sakit yang dia alami
sekarang. Apa yang harus aku lakukan ? Apakah aku harus menemui orang tua Raka
lagi, dan memohon agar pendonoran dilaksanakan. Aku sangat egois, tapi aku tak
mau kahilangan Kaka. Ku coba untuk menemui mereka sekali lagi. Aku memohon
dengan penuh rasa bersalah, akan tetapi semua telah sia-sia. Mereka tetap tak
menyetujuinya. Apakah aku bisa memohon kepada daun semanggi tadi ?
“
Ku mohon kabulkanlah permintaan terakhirku ini, sembuhkanlah Kaka, berikanlah
dia umur yang panjang. Ambil nyawaku jika perlu, aku mohon……. Aku mohon, aku
tak mau kehilangan dia Tuhan, ” kataku di depan Kaka.
“
Sudahlah Bunga, ikhlaskan saja Kaka, ” kata Ayah kepadaku.
“
Ayah, aku sangat mencintainya, aku tak mau kehilangan dia, Ayah, ” jawabku pada
Ayah.
“
Benar kata Ayahmu Bunga, ikhlaskan Kaka. Kami juga akan berusaha mengikhlaskannya.
Kami yakin ini adalah jalan takdir terbaik untuk Kaka, ” ucap kedua orangtua
Kaka.
Aku sempat berpikir bagaimana kalau
aku mendonorkan jantungku untuknya. Aku yakin dia pasti akan sangat bahagia.
Aku ingin dia hidup bahagia di sini. Aku rela menyerahkan nyawaku untuknya.
Kemudian aku memohon kepada Ayah, agar mengijinkanku untuk mendonorkan
jantungku untuk Kaka. Ayah sangat tak menyetujui permintaanku, ia tak mau
kehilangan orang yang di sayanginya lagi setelah kematian Ibu dulu. Apa boleh
buat, ini adalah takdir.
Waktu terus berlalu, kondisi Kaka
semakin kristis, ia harus segera mendapatkan donor jantung secepatnya. Aku
sangat ingin mendonorkan jantungku untuknya, tapi Ayah tak menyetujuiku. Apa
yang harus aku lakukan ? Haruskah aku………… Tidak itu tidak mungkin ku lakukan,
bunuh diri adalah perbuatan dosa. Tetapi dengan aku bunuh diri aku akan bisa
mendonorkan jantungku untuknya.
Ku coba untuk berpikir lagi, aku
rasa aku akan mengikhlaskannya. Oh Tuhan, bantu kami, persatukan kami nanti di
surga.
* * *
Hari ini adalah hari ke dua setelah
kematian Kaka. Aku masih belum bisa mengikhlaskannya. Aku masih ingin bertemu
dengannya lagi di sini. Kaka kamu jahat, kamu pernah janji kepadaku bahwa kau
akan selalu ada untukku, kamu tidak menepati janjimu. Kamu jahat Kaka.
Raka telah tersadar dari tidur
panjangnya, ia tampak masih sangat pucat. Sekarang aku berada di kamar Raka.
Aku bercerita kepadanya bahwa Kaka telah meninggal, dan ia tampak sangat sedih,
sama sepertiku. Raka bahkan menangis dan merasa bersalah, karena pendonoran
yang ia harapkan tidak dilaksanakan akibat tidak ada persetujuan orang tua
Raka.
“
Maafkan aku Bunga, aku tak dapat menepati apa yang telah ku katakan untuk
mendonorkan jantungku untuk Kaka, aku merasa sangat bersalah. Padahal aku melakukan
ini semua demi kamu, aku ingin kamu hidup bahagia dengan Kaka, tapi
kenyataannya sekarang semua terbalik. Kamu terlihat sangat sedih atas kematian
Kaka, ” ucap Raka padaku.
“
Tak apa Raka, aku tau ini adalah jalan takdir kami berdua. Mungkin Tuhan
mempunyai renacana indah di balik peristiwa ini. Aku ingin mengatakan bahwa
saat ini aku akan mulai melupakan Kaka, dan menerimamu sebagai penggantinya.
Itu semua adalah pesan dari Kaka, aku harus melakukannya, ” balasku kepadanya.
“
Orang sebaik apa Kaka itu ? Aku tak menyangka dia akan merelakanmu untukku,
Bunga. Tapi aku tak dapat menerima ini semua, aku tau, kau hanya terpaksa bukan
menerimaku untukmu ? ” jawabnya kepadaku.
Air mata ini menetes, tak sanggup aku
mengatakan bahwa apa yang dikatakan Raka tadi benar, bahwa aku mencintainya
karena terpaksa.
“
Aku ingin kau menerimaku sebagai sahabatmu, Bunga. Bukan sebagai kekasihmu, ”
kata Raka.
“
Apa ? Kau ingin menjadi sahabatku ? Tentu saja Raka kenapa tidak. Mulai saat
ini kita resmi menjadi sahabat, dan aku akan dengan senang hati menerimanya, ”
jawabku.
“
Terima kasih Bunga, ” balasnya.
Takdir mungkin tak dapat diubah oleh
manusia, Tuhan telah mengaturnya, hanya saja kita memang harus berusaha dan tak
menyerah dalam menjalani takdir Tuhan. Mulai sekarang aku akan membuka hatiku
untuk orang lain, karena takdirku belum berakhir sampai disini. Aku masih
mempunyai cita-cita dan mimpi untuk ku wujudkan. Aku percaya sekarang Kaka
sudah tenang di surga dan ia pasti bahagia di sana.
* * *
Tuhan berkehendak lain pada kami,
sekarang aku telah menjadi seorang istri dan seorang Ibu untuk anakku. Aku
menjadi istri Raka dan kini aku bekerja sebagai seorang dokter, sama seperti
Ayahku. Buah hati kami, aku dan Raka ia kami beri nama Kaka. Kami berharap Kaka
kecil dapat tumbuh besar seperti Kaka dan mewarisi sifat malaikatnya. Aku
bangga menjadi diriku yang sekarang ini. Terima kasih Tuhan……
No comments:
Post a Comment