PLATYHELMINTHES
Klasifikasi
Platyhelminthes dapat dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu Turbellaria
(cacing bulu getar), Trematoda (cacing hisap), Monogenea, dan Cestoda
(cacing pita).
- Kelas Turbellaria merupakan cacing pipih yang menggunakan bulu getar sebagai alat geraknya, contohnya adalah Planaria.
-
Salah satu contohnya planaria sp,
-
Bersifat karnivora, dapat ditemukan di
perairan atau genangan air.
-
Biasanya menempel di batuan atau daun yang tergenang air.
-
Panjang tubuhnya sekitar 5 – 25 mm.
-
Bergerak dengan silia yang terdapat pada epidermis
tubuhnya.
-
Saluran pencernaannya terdiri dari
mulut, faring, dan usus. Tidak memiliki anus.
-
Mengekskresikan sisa sisa metabolisme
berupa nitrogen melalui permukaan tubuhnya.
-
Sistem saraf terdiri dari dua ganglia
yang terdapat pada bagian kepala.
§ Ganglia
adalah lapisan yang berwarna putih. Lapisan dalam banyak mengandung serabut
saraf, yaitu Dendrit
dan Neurit.
Terdapat di otak.
-
Reproduksi terjadi secara seksual
(terjadi pada siang pendek dan udara dingin, melalui perkawinan silang) dan
aseksual (terjadi pada sing panjang dan udara hangat, dengan regenerasi)
§ Regenerasi
dalam biologi
adalah menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak atau lepas. Daya regenerasi
paling besar pada echinodermata dan platyhelminthes yang dimana tiap potongan
tubuh dapat tumbuh menjadi individu baru yang sempurna. Pada Anelida kemampuan
itu menurun. Daya itu tinggal sedikit dan terbatas pada bagian ujung anggota
pada amfibi dan reptil. Pada mamalia daya itu paling kecil, terbatas pada
penyembuhan luka.
- Kelas Trematoda memiliki alat hisap yang dilengkapi dengan kait untuk melekatkan diri pada inangnya karena golongan ini hidup sebagai parasit pada manusia dan hewan. Beberapa contoh Trematoda adalah Fasciola (cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma
-
Semua anggotanya adalah parasit bagi manusia dan hewan.
-
Contohnya yang terkenal yaitu fasciola hepatica (cacing
hati)
-
Struktur tubuh
§ Permukaan tubuhnya tidak bersilia, tetapi
diliputi kutikula.
§ Memiliki alat isap satu atau lebih di sekitar
mulut atau bagian ventral tubuhnya. Alat isap ini dilengkati dengangigi kitin.
§ Kitin
adalah polisakarida
(cadangan makanan) struktural yang digunakan untuk menyusun eksoskleton dari artropoda (serangga, laba-laba, krustase, dan hewan-hewan lain
sejenis). Kitin murni mirip dengan kulit, namun akan mengeras ketika dilapisi
dengan garam kalsium karbonat.[1]
Kitin membentuk serat mirip selulosa yang tidak dapat dicerna oleh vertebrata.
[2]
§ Sistem
pencernaannya bercabang dua, sedangkan sistemekskresi dan sistem saraf sama
dengan turbellaria.
§ Sistem reproduksi ada yang hermafrodit.
- Kelas Cestoda memiliki kulit yang dilapisi kitin sehingga tidak tercemar oleh enzim di usus inang. Cacing ini merupakan parasit pada hewan, contohnya adalah Taenia solium dan T. saginata Spesies ini menggunakan skoleks untuk menempel pada usus inang. Taenia bereproduksi dengan menggunakan telur yang telah dibuahi dan di dalamnya terkandung larva yang disebut onkosfer.
-
Berbentuk pipih seperti pita, dan terdiri dari rangkaian
segmen yang masing masing disebut ploglotid.
-
Bagian kepala dilengkapi alat pengisap berkait yang yang
digunakan untuk menempel pada tubuh inang.
-
Tidak mempunyai saluran pencernaan. Makan diserap
langsung berupa sari makanan oleh permukaan tubuh.
-
Bersifat endoparasit dalam saluran pencernaan vertebrata.
-
Segmentasi cacing pita merupakan koloni dari individu
individu yang dihasilkan melalui stobilasi (pembentukan kuncup).
-
Ploglotid dewasa yang mengandung alat reproduksi dapat
terlepas dari kotoran inagnya. Kemudian ploglotid tumbuh menjadi individu
dewasa.
-
Bersifat hermafrodit.
-
Sistem sarafnya lebih sederhana daripada sistem saraf
tremapoda.
-
Contoh spesiesnya yang terkenal yaitu Taenia solium,
Taenia saginata, dan Dibothriochepalus latus.
·
Monogenea adalah kelas
dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filumPlatyhelminthes
Hewan dari kelas Monogenea umumnya parasit. Hewan
ini juga tidak memiliki rongga tubuh. Monogenea mempunyai sistem pencernaan
sederhana yang mencakup lubang mulut, usus, serta anus. Contohnya Noebenedenia. Pada
tahap awal hidupnya, Monogenea memiliki sebuah organ mirip kait di bagian
posteriornya yang disebut haptor. Hewan dewasa memiliki prohaptor
(untuk makan) dan opisthaptor (untuk menempel). Monogenea dapat
ditemukan dikulit, sirip, dan insang ikan. Monogenea biasanya hermafrodit. Siklus hidupnya tidak mengalami
reproduksi aseksual. Pada reproduksinya dihasilkan telur yang akan mengalami
tahap larva, disebut onkomirasidium. Hewan dewasanya memakan darah,
lendir, serta sel-sel epitel inangnya.
-
Umumnya
parasit
-
Contohnya Neobenedenia
-
Tidak
memiliki rongga tubuh
-
Mempunyai
sistem pencernaan sederhana yang mencakup lubang mulut , usus, serta anus.
-
Pada tahap
awal, memiliki sebuah organ mirip kait di bagian posteriornya yang disebut haptor.
-
Hewan dewasa
memiliki prohaptor (untuk makan) dan ophisthaptor (untuk menempel).
-
Monogenea
dapat ditemukan di kulit, sirip, dan insang ikan.
-
Biasanya
hermafrodit.
-
Siklus
hidupnya tidak mengalami reproduksi aseksual
-
Hewan dewasa
memakan darah, lendir serta sel-sel epitel inangnya.
CIRI-CIRI
Tubuh pipih dosoventral dan tidak bersegmen. Umumnya, golongan cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam tubuh organisme lain. Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya.Beberapa contoh Platyhelminthes adalah Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang 2-3 cm), Bipalium yang hidup di balik lumut lembap (panjang mencapai 60 cm), Clonorchis sinensis, cacing hati, dan cacing pita.
Tubuh pipih dosoventral dan tidak bersegmen. Umumnya, golongan cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam tubuh organisme lain. Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya.Beberapa contoh Platyhelminthes adalah Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang 2-3 cm), Bipalium yang hidup di balik lumut lembap (panjang mencapai 60 cm), Clonorchis sinensis, cacing hati, dan cacing pita.
Ciri-ciri
Platyhelmynthes
–Triploblastika
selomata
–Tubuh
berbentuk pipih bertipe simetribilateral
–Tidak
memiliki system peredaran darah,system pernapasan dan rangka tubuh
–Sudah
memiliki system ekskresi,sistemreproduksi,system saraf.
–Hermafrodit,yaitu
dapat menghasilkan telur ataupun sperma
Struktur dan fungsi tubuh
Platyhelminthes
merupakan cacing yang tergolong triploblastik
aselomata karena
memiliki 3 lapisan embrional yang terdiri dari ektoderma, endoderma, dan mesoderma Namun, mesoderma cacing ini tidak
mengalami spesialisasi sehingga sel-selnya tetap seragam dan tidak membentuk
sel khusus.
Platyhelminthes
merupakan cacing yang tergolong triploblastik aselomata karena memiliki
3 lapisan embrional yang terdiri dari ektoderma, endoderma, dan mesoderma.Namun, mesoderma cacing initidak mengalami
spesialisasisehingga sel-selnya tetapseragam dan tidak membentuk sel khusus.
·
Ektoderma (lapisan luar)
Dalam perkembangan selanjutnya akan membentuk epidermis
dan kutikula.
Epidermis lunak dan bersilia berfungsi membantu alat gerak.
Sebagian epidermis dilengkapi dengan alat yang dapat dipakai untuk melekatkan diri pada inang. Ada pula yang berupa alat kait dari kitin.
Epidermis lunak dan bersilia berfungsi membantu alat gerak.
Sebagian epidermis dilengkapi dengan alat yang dapat dipakai untuk melekatkan diri pada inang. Ada pula yang berupa alat kait dari kitin.
·
Mesoderma (lapisan tengah)
Dalam perkembangan selanjutnya, mesoderma akan membentuk
alat reproduksi, jaringan otot, dan jaringan ikat.
·
Endoderma (lapisan dalam)
Dalam perkembangan
selanjutnya endoderma akan membentuk gastrodermis / gastrovaskuler sebagai
saluran pencernaan makanan
Bagian-bagian Platyhelminthes :
Keterangan gambar :
·
Mulut : makan dan ekskresi.
·
Saraf
cincin : system syaraf di kepala.
·
Saluran
elementer : system pencernaan.
·
Uterus:
system ekskresi
·
Vas
deferens : reproduksi seksual
·
Testis
anterior : reproduksi seksual
·
Kelenjar
kuning telur : reproduksi seksual
·
Faring
: system pernafasan.
·
Penis
: reproduksi seksual
·
Kantung
seminal :memproduksi sperma.
·
Saraf
longitudinal : Sistem ekskresi
·
Ovarium
: reproduksi seksual
·
Kelenjar
kulit : menghasilkan lender yang
melapisi tubuh dan dapat digunakan untuk meluncur.
SISTEM PENCERNAAN
Sistem pencernaan cacing pipih
disebut sistem gastrovaskuler, dimana peredaran makanan tidak melalui darah
tetapi oleh usus.Sistem pencernaan cacing pipih dimulai dari mulut, faring, dan
dilanjutkan ke kerongkongan.Di belakang kerongkongan ini terdapat usus yang
memiliki cabang ke seluruh tubuh.Dengan demikian, selain mencerna makanan, usus
juga mengedarkan makanan ke seluruh tubuh.
Selain itu, cacing pipih juga melakukan pembuangan sisa makanan melalui mulut karena tidak memiliki anus.Cacing pipih tidak memiliki sistem transpor karena makanannya diedarkan melalui sistem gastrovaskuler. Sementara itu, gas O2 dan CO2 dikeluarkan dari tubuhnya melalui proses difusi.Saluran pencernaan tidak sempurna, yaitu berupa rongga gasrovaskuleryang terletak di dalam tubuhdan berperan sebagai usus. Tetapi ada pula platyhelminthes yang tidak memiliki saluran pencernaan.
Selain itu, cacing pipih juga melakukan pembuangan sisa makanan melalui mulut karena tidak memiliki anus.Cacing pipih tidak memiliki sistem transpor karena makanannya diedarkan melalui sistem gastrovaskuler. Sementara itu, gas O2 dan CO2 dikeluarkan dari tubuhnya melalui proses difusi.Saluran pencernaan tidak sempurna, yaitu berupa rongga gasrovaskuleryang terletak di dalam tubuhdan berperan sebagai usus. Tetapi ada pula platyhelminthes yang tidak memiliki saluran pencernaan.
SISTEM EKSKRESI
Bersifat
sederhana dan terutama berfungsi untuk memelihara keseimbangan osmosis antara
hewan dengan lingkungannya. Tersusun dari sel sel bersilia, yaitu sel sel bulu
getar (solenosit)
SISTEM SYARAF
Ada beberapa macam sistem syaraf pada cacing pipih :
• Sistem syaraf tangga tali merupakan sistem syaraf yang paling sederhana. Pada
sistem tersebut, pusat susunan saraf yang disebut sebagai ganglion otak
terdapat di bagian kepala dan berjumlah sepasang.Dari kedua ganglion otak
tersebut keluar tali saraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh
yang dihubungkan dengan serabut saraf melintang.Pada cacing pipih yang lebih
tinggi tingkatannya, sistem saraf dapat tersusun dari sel saraf (neuron) yang
dibedakan menjadi sel saraf sensori (sel pembawa sinyal dari indera ke otak),
sel saraf motor (sel pembawa dari otak ke efektor), dan sel asosiasi
(perantara).
INDERA
Beberapa jenis cacing pipih memiliki sistem penginderaan berupa oseli, yaitu
bintik mata yang mengandung pigmen peka terhadap cahaya.Bintik mata tersebut
biasanya berjumlah sepasang dan terdapat di bagian anterior (kepala). Seluruh
cacing pipih memiliki indra meraba dan sel kemoresptor di seluruh tubuhnya.
Beberapa spesies juga memiliki indra tambahan berupa aurikula (telinga),
statosista (pegatur keseimbangan), dan reoreseptor (organ untuk mengetahui arah
aliran sungai). Umumnya, cacing pipih memiliki sistem osmoregulasi yang disebut
protonefridia. Sistem ini terdiri dari saluran berpembeluh yang berakhir di sel
api. Lubang pengeluaran cairan yang dimilikinya disebut protonefridiofor yang
berjumlah sepasang atau lebih.Sedangkan, sisa metabolism tubuhnya dikeluarkan
secara difusi melalui dinding sel.
Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan
menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme
hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi
cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu
banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit
air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai
sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme
hidup.
Reproduksi
Cacing pipih
dapat bereproduksi secara aseksual dengan
membelah diri dan secara seksual dengan
perkawinan silang, walaupun hewan ini tergolong hermafrodit. Artinya dalam
satu tubuh terdapat alat kelamin jantan dan betina, namun jarang terjadi
pebuahan sendiri.Reproduksi generatif dengan perkawinan silang dan berlangsung
fertilisasi internal. Reproduksi vegetatif dengan cara regenerasi yaitu
individu baru berasal dari bagian tubuh induknya.
Reproduksi
Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual.Pada Reproduksi seksual
terjadi fertilisasi di dalam tuubuh Platyhelminthes.Fertilisasi dapat dilakukan
oleh sendiri atau dua individu.
Sedangkan reproduksi aseksual dilakukan dengan cara faragmentasi. Setelah membelah, bagian potongan tubuh tersebut mengalami regenerasi dan tumbuh menjadi individu baru.
Sedangkan reproduksi aseksual dilakukan dengan cara faragmentasi. Setelah membelah, bagian potongan tubuh tersebut mengalami regenerasi dan tumbuh menjadi individu baru.
Hermafrodit
Hermafrodit secara biologis adalah individu yang memiliki 2 alat/organ kelamin yaitu jantan dan betina, berfungsi penuh. Hermafrodit hanya ada dalam mitologi, dan bukan yang terjadi pada manusia, tetapi dalam dunia hewan dan tumbuhan. Adalah penting untuk mengetahui bahwa Hermafrodit tidak sama Interseks, orang interseks terjadi pada manusia, kedua organ tidak dapat sepenuhnya berfungsi.
Siklus
Hidup Platyhelminthes
a. Fasciola hepatica
Telur (bersama feces) -> larva bersilia (mirasidium) -> siput air (lymnea auricularis atau lymnea javanica) -> sporosista -> redia -> serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menempel pada rumput / tanaman air -> membentuk kista (metaserkaria) -> dimakan domba(hepatica)/sapi(gigantica) -> usus -> hati -> sampai dewasa.
•
Reproduksi seksual Fasciola hepatica menghasilkan
telur pada hati dan kemudian berpindah ke aliran darah ke empedu dan usus,
kemudian keluar bersama tinja.
•
Telur menetas dan tumbuh menjadi mirasidium
bersilia di tempat basah.
•
Mirasidium menginfeksi inang perantara
yaitu Lymnaea atau siput air.
•
Mirasidium berubah menjadi sporokis
di dalam tubuh inang perantara (siput air).
•
Sporokis berkembang secara aseksual menjadi
redia.
•
Redia bermetamorfosis menjadi serkaria.
•
Serkaria ini keluar dari tubuh siput dan
menempel pada turmbuhan atau rumput air.
•
Serkaria membentuk cacing muda atau metaserkaria.
•
Metaserkaria termakan oleh hewan dan
kemudian menjadi cacing dewasa di dalam organ hati.
b. Chlornosis sinensis
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporosista -> menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh siput -> ikan air tawar (menempel di ototnya) -> membentuk kista (metaserkaria) -> ikan dimakan -> saluran pencernaan -> hati -> sampai dewasa
c. Schistosoma javanicum
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporosista -> menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menembus kulit manusia -> pembuluh darah vena
d. Taenia saginata / Taenia Solium
Proglotid (bersama feces) -> mencemari makanan babi -> babi -> usus babi (telur menetas jadi hexacan) -> aliran darah -> otot/daging (sistiserkus) -> manusia -> usus manusia (sistiserkus pecah -> skolex menempel di dinding usus) -> sampai dewasa di manusia -> keluar bersama feces
Penyakit yang disebabkan Platyhelminthes
Schistosoma mansoni, penyebab Schistosoma pada manusia.
Beberapa spesies Platyhelminthes dapat menimbulkan penyakit pada manusia dan hewan. Salah satu diantaranya adalah genus Schistosoma yang dapat menyebabkan skistosomiasis, penyakit parasit yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia. Apabila cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, dapat terjadi kerusakan jaringan dan organ seperti kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia.Kerusakan tersebut disebabkan perkembanganbiakan cacing Schistosoma di dalam tubuh hingga menyebabkan reaksi imunitas.Penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia.Contoh lainnya adalah Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya.Spesies ini dapat menghisap darah manusia. Pada hewan, infeksi cacing pipih juga dapat ditemukan, misalnya Scutariella didactyla yang menyerang udang jenis Trogocaris dengan cara menghisap cairan tubuh udang tersebut