Thursday, 28 February 2013

KENANGAN SEBUAH DRAMA



BATU MENANGIS VERSI KEMBAR TIGA

SCENE 1 : Di depan kamar Yono

Musik   : Suling pedesaan

Di sebuah desa, hiduplah seorang janda dengan tiga anaknya yang kembar. Anak pertama bernama Yono, dia adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini, namun wataknya adalah yang terburuk. Dia sangat keras kepala, egois, dan jahat kepada ibu dan kedua saudarinya. Anak kedua dan ketiga bernama Yati dan Yani, mereka mempunyai watak yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan kakak laki-lakinya.Merekasangat menyayangi ibunya, rajin, dan baik hati. Sementara sang janda sendiri adalah perempuan yang tegar. Dia tetap sabar walaupun ditinggal oleh suaminya akibat serangan jantung dua tahun yang lalu.

(Musik  : suara adzan dan ayam berkokok)

Ibu                         : Yono! Bangun Nak, saatnya sholat subuh.
Yono                      : Ibu berisik banget sih. Kalau mau sholat, sholat saja sendiri. Ngapain ngajak aku!        Hidupku masih lama, Bu.
Yati                         : Ibu ngapain di sini? Ayo sholat.
Ibu                         : Bagaimana dengan kakakmu?
Yati                         : Udah, Bu. Tinggal saja. Yono kan memang tidak pernah sholat.
Ibu                         : Tapi ibu ingin dia ikut sholat bersama kita. Coba kamu yang bujuk dia.
Yati                         : Yono! Bangun! Ditunggu sama ibu!
Yono                      : (Keluar kamar) Ngapain kamu teriak-teriak? Ngajakin berantem ya?
Yati                         : Nantang? Kamu tidur saja masih ngompol, gaya-gayaan amat.
Ibu                         :Sudah-sudah. Yono, ayo kita sholat, Nak.
Yono                      :Aku nggak mau, Bu.Memangnya ibu nggak bosan setiap hari ngajakin sholat terus? Yang mau mati kan ibu, ibu saja yang sholat. Hidupku masih panjang, Bu.
Yati                         :Yono nggak boleh kasar sama ibu! Dosa!
Yono                      :Nggak usah panggil aku Yono lagi. Mulai sekarang dan selamanya, namaku Ricardo, R-I-C-A-R-D-O! Jangan panggil aku dengan nama kampungan itu lagi!
Yati                         :Dasar gila. Ya sudah kalau tidak mau sholat, biar aku dan ibu saja. (pergi  sholat)

SCENE 2 : Di kamar Yono (Yono monologue)  
            
(musik  : memble tapi kece)

Yono                      :Aku ini kurang apa sih? Tampang oke, body sixpack, tangan berotot, otak nggak bodo-bodo amat. Apa yang kurang dari aku?

Yono memang gila. Dia durhaka kepada ibunya dan sudah tidak mengakui keberadaan keluarganya lagi. Bahkan dia berbicara sendiri di kamarnya.Nasibnya memang sangat malang.

Yono                      : Daripada aku dirumah nggak ada kegiatan mendingan aku pergi jalan-jalan ada deh.. Sebelum pergi aku minta uang dulu saja sama ibu.

SCENE 3 : Di halaman rumah (Sedang menyapu)

Yono                      : Bu, aku minta uang.
Ibu                         : Ibu hanya punya uang segini, Nak. (menyerahkan uang)
Yono                      : Dasar miskin! Payah. (mendorong ibunya)
Ibu                         : Astagfirullah haladzim.

SCENE 4 : Di jalan

(Musik  : Maya feat Pasto)

Ferdinand           : Hai, bro!
Yono                      : Hello. (tos dengan Ferdinand)
Ferdinand           : Hari ini kita mau ke mana?
Yono                      : Tentu saja kita pergi untuk menghabiskan uang. Aku sudah bosan melihat uang terlalu banyak di rumahku.
Ferdinand           : Kalau begitu, ayo kita clubing.

Begitulah kehidupan Yono, dia mengaku-aku kaya kepada semua orang. Dia selalu menghabiskan uang ibunya, sementara dia hanyalah seseorang yang bodoh dan gila.

SCENE 5 : Di rumah 

(musik  : ayam berkokok)

Ibu                         : Kira-kira Yono ke mana ya? Jangan-jangan dia di culik.
Yani                        : Ya ampun, Bu. Mana mungkin ada yang mau nyulik anak jelek kaya dia.
Yati                         : Jangan begitu, Ni, biar seperti itu tetapi dia kan kakak kita juga.
Yono                      : (datang dengan keadaan mabuk dan bau alkohol, ditanganya terdapat botol alkohol)
Ibu                         : Astagfirullah haladzim, Nak. Kamu kenapa?
Yono                      : Aku nggak kenapa-kenapa, Bu. Udah deh, ibu nggak usah sok peduli. Urus aja urusan ibu sendiri. Aku mau tidur.
Ibu                         : Kenapa kamu nggak pulang semalaman, Nak? Ibu khawatir.
Yono                      : Khawatir? Ibu jangan sok peduli ke aku. Aku udah bisa ngurusin urusanku sendiri (pergi menuju ke kamarnya.)
Yani                        : Seharusnya kakak itu bersyukur masih ada orang yang peduli dengan kakak.
Yono                      : Emang gue pikirin.
Yati                         : Sudahlah memang dia seperti itu orangnya, percuma jika kita nasehati. Paling juga masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Ibu pun hanya bisa bersabar menghadapi anaknya yang egois itu. Pada saat itu, Ibu jadi ingin pergi ke makam almarhum suaminya.

Ibu                         : Yani, Yati, maukah kamu menemani ibu ke makam ayah nanti jam 8?
Yani                        : Tentu saja, Bu. Yono di ajak?
Ibu                         : Tentu saja, dia kan juga anak ibu.
Yani                        : Semoga saja dia mau, Bu.

SCENE 6 : Di rumah

(musik  : suara jam berdentang delapan kali)

Ibu                         : Kakak kalian mana?
Yati                         : Belum bangun, Bu.
Ibu                         : Coba kamu bangunkan Yono.
Yati                         : Ya, Bu. (berjalan ke kamar Yono)
Yati                         : Yono! Bangun! Dia ajak ibu ke makam ayah!
Yono                      : Berisik banget sih! Pergi sana! Aku mau di rumah saja.
Yati                         : Jangan, nanti ibu sedih kalau kamu nggak ikut.
Yono                      : (keluar kamar) Ini jam berapa?
Yati                         : Hampir jam setengah 9.
Yono                      : Hah? Jam setengah 9? Inbox! Oh My God aku ketinggalan, semoga Cherrybelle belum tampil. (berlari menuju ke ruang tengah dan segera duduk di depan teve dan menyalakan teve.)
Yati                         : (berlari mengikuti di belakang Yono sambil kebingungan) Kamu kenapa? Kan di ajak ibu ke makam ayah!
Yono                      : Aku mau nonton Inbox!
Ibu                         : Ayo, Nak. Kita ke makam ayahmu.
Yono                      : Ogah. Nggak seru, lebih seru nonton Inbox. Apalagi bintang tamunya kan Cherrybelle.
Yani                        : Udah, ditinggal aja, Bu! Ngapain kita nungguin dia.
Ibu                         : Yono, kamu di rumah sendiri dulu ya.
Yono                      : Nggak peduli! Sana pergi saja yang lama. Nggak usah balik juga nggak papa.
Ibu                         : Assalamualaikum.
Yono                      : Cepat sana kalian pergi saja. Dasar pengganggu.
(Tak berselang lama, Ferdinand berkunjung ke rumah Yono.)
Ferdinand           : Ricardo! Ini aku, Ferdinand.
Yono                      : (membuka pintu) Eh, Ferdinand. Ayo, cepetan masuk.
Ferdinand           : Memangnya ada apa?
Yono                      : Tahu nggak sih? Cherrybelle lagi live di Inbox!
Ferdinand           : Sumpe, loe?
Yono                      : (menarik masuk Ferdinand ke depan teve) Lihat tuh, Cherrybelle.
Ferdinand           : Waaahh... aku juga mau nonton.
Yono/Ferdinand : (menonton teve sambil menyanyi menirukan girlband idola mereka)
(Musik : Cherrybelle )
Yono                      : Annisa! Kamu cute banget.
Ferdinand           : Biasa saja! Lebih cantik Gigi!
(Tak terasa acara Inbox pun berakhir).
Yono                      : Yah, udah selesai. Yuk, kita main saja.
Ferdinand           : Yuk.
Yono                      : Enaknya main di mana ya ?
Ferdinand           : Kita pikirin nantidulu aja deh, daripada bingung. Mendingan sekarang kita ke kota aja. Siapa tau kita ketemu cewek-cewek cantik di sana.
Yono                      : Oke.
SCENE 7 : Di tempat main

(Mereka berjalan-jalan menyusuri kota. Tidak sengaja, mereka bertemu dengan dua orang gadis tetangga mereka).

(musik : Nuansa bening-Vidi Aldiano)

Ferdinand           : Ada Vaseline, tuh.
Yono/Ferdinand               : (menghampiri mereka berdua)
Yono                      : Hai… Lagi ngapain?
Vaseline               : Mau tau aja.
Yono                      : Ntar malam senggang ngga?
Vaseline               : Memangnya kenapa?
Yono                      : Aku tunggu di sini ya (menyerahkan kertas).
Vaseline               : Oke
(Setelah itu, Yono dan Ferdinand pergi).

SCENE 8 : Di makam Ayahanda Yono.

Musik   : Suasana di makam, Titip Rindu Buat Ayah

Sesampainya di makam, Yati dan Yani kemudian menaburkan bunga mawar merah dan putih ke atas makam sang ayah yang sudah meninggalkan mereka 2 tahun yang lalu. Sementara Yati dan Yani sedang menaburkan bunga, tiba-tiba ibu menangis disebelah makam itu sambil mengelus-elus nisan suaminya.
Ibu         : Maafkan aku suamiku, aku tak dapat mengurus anak kita dengan baik, dan maafkan aku   pula karena tak dapat memenuhi kebutuhan yang merekabutuhkan. Aku memang orang tua yang tak berguna.
Yati         : Sudahlah bu, jangan menyesali semua yang sudah terjadi saat ini. Bukankah ini cobaan dari Sang Maha Pencipta. Kita harus sabar bu, kita harus bisa menghadapi semuanya dengan ikhlas.
Yani        : Iya bu, benar kata kakak kita harus sabar, suatu saat nanti Tuhan akan memberikan kebahagiaan kepada keluarga kita dan percayalah busemua itu ada waktunya.
Ibu         : Berjanjilah anakku, kalian tak akan pernah meninggalkan ibu sendiri. Ibu sangat sayang kepada kalian.
Yati         : Iya bu, kami janji. Kami juga sayang sekali kepada ibu dan juga kak Yono. (Sambil mengajak ibunya pulang ke rumah)

SCENE 9 : Di tempat janjian (malam hari)

Musik   : Suara burung hantu

Ferdinand dan Yono : (menunggu kehadiran dua orang gadis yang mereka temui tadi siang.)
Vaseline               :Udah lama nunggu?
Yono                      :Nggak. Yuk pergi.
Vaseline               : Pergi kemana ?
Yono                      : Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat yang indah di dekat desaku.
Vaseline               : Tetapi jangan lama-lama. Inikan sudah malam.
Yono                      : Tenang saja. Aku akan selalu melindungi kamu kok.
Vaseline               : Oke kalau begitu. Ayo kita pergi sekarang, nanti keburu malam.
Yono dan Vaseline           :   (pergi meninggalkan teman mereka.) Duluan ya.
Ferdinand           : Daripada kita bengong begini. Mendingan kita cabut yuk ke mall, aku mau beliin sesuatu buat kamu.
Sari Ayu                : Ya udah deh ayo kita pergi.

SCENE 10 : Di warung kopi.

Musik                   : Pacarku Memang dekat.
(Sebelum Yono dan Vaseline pergi merek amampir ke sebuah warung untuk membeli secangkir kopi.)
Yono                      : Permisi bu, permisi,
Penjual                 : (menyopot headset) Maaf mas, lagi asyik ndengerin musik. Mau pesan apa ?
Yono                      : Bu, kopinya dua ya ? Dibungkus ya.
Penjual                 : Iya mas, silahkan duduk dulu.
(Sambil menunggu pesanan, mereka membicarakan sesuatu hal.)
Yono                      : Vaseline hari ini kamu cantik banget.
Vaseline               : Makasih. (sambil tersenyum)
Yono                      : Aku punya lagu buat kamu .
Vaseline               : Apa ?
Yono                      : (Menyanyikan lagu untuk veseline)
Vaseline               : Ahhh, bisa saja kamu itu. (malu-malu)
Yono                      : (menyatakan cinta kepada Vaseline) Vaseline aku sebenarnya itu suk…
Penjual                 : Ini mas kopinya. Harganya 10 ribu.
Yono                      : Ibu itu mengganggu saja. (menyerahkan uang tanpa melihat berapa yang diambil) Ambil saja kembaliannya.
Penjual                 : Tapi ini uangnya kurang mas, in imasih 5 ribu jadinyakurang 5 ribu.
Yono                      : Maaf, maaf, kalau begitu, saya salah uang (menyerahkan uang 50 ribu). Ini bu, ambil saja kembaliannya.
Penjual                 : Terimakasih mas.
Vaseline               : Do, kamu tadi mau ngomong apa ke aku ?
Yono                      : Sebenernya aku itu eeeee, su,, eeee…suk……
(Saat itu Ibu Yono ingin membeli gula di warung dan kebetulan beliau bertemu dengan Yono.)
Ibu                         : Yono, dari pagi kamu ke mana, Nak? Ibu tunggu, tapi kamu tidak pulang-pulang.
Yono                      : Bukan urusanmu!Kamu siapa mengaturku seperti ini ? Dasar pengganggu.
Vaseline               : Itu siapa?
Yono                      : Dia bukan siapa-siapaku! Ayo kita pergi.
Ibu                         : Apa maksud kamu, Nak? (menarik tangan Yono)
Yono                      : Pergi sana! Dasar pengemis bau! (mendorong ibunya hingga ibunya terjatuh)
Vaseline               : Ricardo kamu jangan kasar-kasar sama orang tua. Kasihan ibu ini. (membantu ibu Yono berdiri). Maafkan Ricardo bu, dia telah kasar dengan ibu.
Ibu                         :Ibu nggak nyangka kamu kurang ajar begini sama ibu, Nak.
Yono                      : Jangan ngaku-ngaku! Aku ngga punya ibu kaya kamu.Ibuku sudah meninggal 2 tahun yang lalu.
Ibu                         : Terkutuklah kamu, Nak. Semoga Allah menghukum kesalahanmu pada ibu.

(Tiba-tiba suasana berubah. Suara petir menggelegar, awan mendung hingga tidak ada satu pun bintang terlihat di sana. Dan seketika itu dunia terasa membeku seakan waktu terhenti, kecuali bagi Yono dan Ibunya.) 

Musik                    : Astagfirullah

Yono                      : (bersujud di kaki ibunya)Maafkan aku bu, maafkan aku. Aku telah berdosa kepada ibu. Maafkan aku bu.
Ibu                         : Semua sudah terlambat nak, ibu tak dapat menarik kata-kata ibu lagi.
Yono                      : Ibu maafkan aku…. (sambil menangis dengan posisi bersujud kepada ibunya).

Setelah itu, doa ibu Yono pun terkabulkan. Tubuh Yono perlahan-lahan berubah menjadi batu. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada. Konon, batu tersebut masih tetap mengeluarkan air mata sebagai bukti penyesalan sang anak yang telah terlambat. Untuk itu, kita sebagai seorang anak, harus selalu menyayangi dan menghormati ibu kita masing-masing. Jangan sampai kita membuat ibu kita marah karena perbuatan kita.
Musik    : Ibu – Iwan Fals